PERLU IDENTITAS AGAMA YANG TERBUKA

1 Comment

 

Sunarwoto

I recommend to you actually to appreciate your identity as the Moslems and to take it very seriously. But because you are Moslem people, it does not mean that you have to fight each other… but nevertheless you have to remind for you have the concept. (Abdul Karim Soroush, 24 Juli 2007).

 

Kutipan di atas berasal dari Dr Abdul Karim Soroush yang dikemukakan pada silaturahmi kami, peserta The Indonesian Young Leaders (TIYL), di kantor ISIM (The International Institute for the Study of Islam in the Modern World), Leiden, 24 Juli 2007. Pemikir Muslim asal Iran ini yakin akan pentingnya identitas agama dalam konteks pluralitas agama dan budaya. Bahkan dia memandang identitas agama lebih penting dari identitas nasional. Namun dia mengingatkan ihwal konsep identitas agama itu. Agama memberikan rasionalitas, karena “On your choice and your will you have religion,” katanya. Dengan kata lain, bagi Soroush, beragama pada dasarnya bukan sesuatu yang terpaksa atau dipaksakan.

Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa rasionalitas agama bertumpu pada tanggung jawab kita atas apa yang kita perbuat dan kita putuskan. Di sinilah letak humanitas agama. Sebaliknya, identitas nasional cenderung tidak memberikan ruang bagi rasionalitas. “Completely beyond your will, beyond your power,” tegasnya. Kita lahir di wilayah negara tertentu bukan atas pilihan dan kemauan kita. Demikian pula identitas ras dan etnisitas. Identitas nasional, ras dan etnisitas bahkan cenderung diskriminatif. Misalnya, jika kita tinggal di negara lain, kita tidak memiliki hak yang sama dengan penduduk asli negara tersebut, dan sebaliknya.

Identitas agama yang rasional merupakan penghubung antar sesama umat Islam dan umat lainnya. Hal ini bisa terbangun melalui aspek-aspek universal agama. Dalam internal Islam misalnya, kesamaan bahasa (Arab) dalam salat, kesamaan dalam kiblat, kewajiban lima waktu, dan seterusnya. Kesamaan-kesamaan semacam itu menyatukan semua umat islam, terlepas dari perbedaan detailnya. Sebagai penganut Shi’i, dia merekomendasikan perlunya para sarjana Sunni memahami tradisi Shi’i, dan sebaliknya. Hanya dengan begitulah perbedaan internal Islam bisa dipahami. Hal yang sama juga perlu dilakukan terhadap agama-agama lain.

Identitas agama adalah sebuah konstruksi, dalam pengertian ia terbentuk dan dibentuk oleh satu pemahaman dan konteks tertentu. Pertanyaan yang mendasar adalah bagaimana konstruksi identitas agama dalam merespons fenomena kekerasan atas nama agama? Bukankah fakta bahwa sebagian kelompok menggunakan agama sebagai landasan untuk menyerang kelompok lain adalah nyata?

Soroush mengakui fakta kekerasan agama itu dan melihatnya sebagai bentuk irasionalitas dalam beragama. Dalam konteks hubungan antaragama, Soroush menyatakan pentingnya mencari landasan bersama yang dalam al-Quran (lihat Ali Imran [3]: 64) diistilahkan (dalam bahasa Arab) sebagai kalimât sawâ’ yang kurang lebih berarti titik temu (common point, commonality).

Lebih jauh, Soroush menegaskan bahwa hubungan antaragama mestilah bertumpu pada humanitas. Surat al-Isra [17] dalam Qur’an ayat 70 menyatakan bahwa kedudukan semua manusia di hadapan Tuhan pada dasarnya adalah mulia. Kemuliaan di sana tanpa memandang perbedaan nasionalitas, ras, etnis, bahkan agama itu sendiri.

Penulis, mahasiswa Islamic Studies, Faculty of Arts pada Universiteit Leiden, Belanda

Advertisements

Nasr Abu Zayd: Half-Indonesian, Half-Egyptian

Leave a comment


 

Oleh Sunarwoto*

’Indonesia is the biggest Muslim population country in the entire Muslim world. My first visit in the year 2004 was a great success. During this visit I coined the expression “Smiling Islam”, to position the Indonesian Islam next to the Middle Eastern or the Arab World Islam. I would like to present my second visit last month and make a comparison with the first one. The aim is to explain and understand the situation in this country as an example of a possible change that has occurred in the world of Islam in a very complicated global context. The possibilities as well as the difficulties of developing a multicultural, pluralistic, democratic and open version of Islam, supporting human rights, will be the focus of my presentation’.

(Nasr Abu Zayd)

More