Kyai, ajengan, buya, ustaz, dan sesamanya adalah gelar-gelar informal yang diberikan masyarakat tanpa seremoni resmi kepada orang yang memiliki pengetahuan Islam yang mendalam. Dari ragamnya, kita bisa tahu bahwa gelar-gelar itu dipengaruhi faktor geografis, budaya, dan karenanya bersifat lokal. Yang lebih universal barangkali adalah alim, ulama atau ustaz. Tetapi toh tetap bernuansa lokal, Arab.  Di kurun waktu sejarah bangsa ini, gelar “kyai” yang khas Jawa ini pernah digilai banyak kalangan sehingga seolah banyak orang berebut untuk memperoleh gelar itu. Banyak orang yang semangat melakukan dakwah dari podium ke podium untuk memantapkan diri sebagai seorang “kyai”. Begitu pula, dai yang tanpa latar belakang pesantren ataupun madrasah  sama sekali tiba-tiba nongol di TV. Setelah beberapa kali tayang, gelar “kyai” pun tersemat. Beberapa orang, di awal maraknya stasiun televisi, dulu tiba-tiba dipanggil Kyai. Mungkin saja memang mereka punya pengetahuan Islam yang lumayan, tetapi panggilan yang mendadak itu tentu menyadarkan bahwa sorot kamera TV pun bisa mendapuk orang menjadi “kyai”.

Tapi itu dulu. Bagi sebagian umat Islam, istilah “kyai” tidak terlalu istimewa, bahkan perlu dihindari karena konotasi kejawaannya—mungkin dekat dengan abangan??? Sebagai gantinya istilah “ustaz” menjadi gelar yang lebih mereka sukai. Di stasiun TV pun bisa kita lihat para dai selebritis—demikian sebagian orang menyebutnya—biasa dipanggil ustaz misalnya Ustaz Jefry Al-Bukhori, Ustaz Muhammad Ilham Arifin, Ustaz Wijayanto, Ustaz Danu, Ustaz Haryono, dan seterusnya. Kontes dai yang pernah dilakukan sebuah stasiun televisi swasta nasional juga turut mengangkat popularitas sebutan “ustaz” itu.

Istilah Ustaz bisa berarti guru biasa, tidak harus agama, sama seperti mudarris. Ustaz juga berarti professor, apa pun bidang yang dikuasai sang pemilik gelar. Jadi kalau ada professor bahasa Prancis, disebutlah al-ustadz al-kamil fi al-lughah al-faransi (full professor in French). Tapi konotasi agamisnya kini tampaknya lebih kental pada gelar ustaz. Tampaknya gelombang Islam transnasional selama dekade belakangan ini menjadikan konotasi agamis menjadi lebih kental. Kita mungkin tidak tepat menyebut “Kyai” pada Abu Bakar Baasyir, Ja’far Umar Thalib, Abu Jibril, al-Khaththath, atau sesamanya. Memang kadang media menyebut KH Abu Bakar Baasyir, misalnya, tetapi tampaknya sebutan “KH” (Kyai Haji) itu tidak lazim di kalangan umatnya sendiri. Yang lazim, “Ustaz Abu”. Kentalnya nuansa Islami pada gelar “ustaz” ini semakin terasa ketika kita mendengar tambahan “Al” pada kata itu. Jadilah: Al-Ustaz. Al di sini dalam bahasa Arab dikenal sebagai Al ta‘rif (definite article) yang mempertegas siapa yang ditunjuknya. Di beberapa stasiun radio di Surakarta, sebutan “Al-Ustaz” ini sangat terasa kental untuk menunjuk para dai atau ahli agama.

Popularitas sebutan “ustaz” di kalangan Islamis mungkin bisa dipahami sebagai semacam tandingan bagi istilah “kyai” yang telah lama popular di Jawa, bahkan melampau Jawa (ingat nama-nama semisal KH Ali Yafie, KH. Idham Khalid, bukanlah orang Jawa). Istilah “Ustaz”, dalam kaca mata ini, bisa dipahami sebagai bagian dari tren Islam transnasional, yakni corak paham Islam yang melampaui batas-batas Negara, Islam yang kaffah.

Ada hal menarik soal sebutan kyai dan ustaz ini. Di sebuah stasiun radio di daerah Surakarta pernah penulis dengar seorang ustaz yang mengatakan bahwa jika hendak belajar Islam jangan sampai belajar kepada “makelar”. Sifat makelar, katanya, adalah suka menambah-nambahi atau mengurangi ajaran Islam. Penulis jadi teringat kata Almarhum Clifford Geertz (rahimahullah), antropolog kenamaan itu, yang di tahun 1960an pernah menulis soal Kyai sebagai “makelar budaya” (cultural broker). Dan memang, di kesempatan lain, sang ustaz itu pun secara jelas merujuk “kyai” sebagai “makelar”. Tentu antara Geertz dan sang ustaz itu berbeda maksud ketika menyebut “makelar”. Bagi Geertz, makelar (broker) diambil dari konsep Robert Redfield tentang organisasi sosial tradisi (social organization of tradition) yang merujuk pada peran perantara antara tradisi kecil dan tradisi besar (Great and little tradition), dalam hal ini tradisi agama. Kyai, dalam konsepsi ini, adalah tokoh agama yang mempunyai kemampuan untuk menjembatani pemahaman agama kaum elite (ulama) dan pemahaman agama rakyat jelata (folk). Kyai juga menjembatani kepentingan elite politik dan rakyat. Kyai itulah yang memberikan penerangan ide-ide modernisasi dari elite kota ke masyarakat pedesaan. Berbeda dari Geertz, sang ustaz memaksudkan “makelar” sebagai orang yang suka mengurangi atau menambahi ajaran Islam—dalam bahasa lugas: bidah. Mungkin ibarat makelar sepeda, yang menawarkan barang orang lain kepada pembeli dengan memainkan harga.

Sampai di sini, gelar ustaz tampak menjadi favorit bagi sebagian umat Islam untuk menunjukkan identitas keberagamaan mereka dan menjadi pembeda identitas dari identitas keberagamaan Islam yang lama mengakar di Jawa. Itulah catatan yang ingin penulis torehkan sekadarnya. Mudah-mudahan ada yang menanggapi sehingga konsepsi awal ini menjadi lebih tajam!!! Terimakasih.

Advertisements