Catatan: Bidah (1)

Leave a comment

Pendapat ulama terbagi menjadi dua: (1) semua yang diadakan dalam masalah agama setelah masa Nabi Saw. Jika sesuai dengan sunnah, maka ia terpuji (mahmudah), dan jika tidak sesuai, maka ia tercela (madzmumah). Pendapat ini dianut oleh Imam Syafii, Imam al-Khithabi,  Imam al-Ghazali, Ibnu Atsir, Imam Nawawi, dan Imam Izzuddin Abdussalam. (2) setiap perbuatan ibadah yang tidak disandarkan pada dalil al-Quran dan hadis. Pendapat ini dianut oleh Ibnu Taimiyah, Ibnu Rajab al-Hanbali, dan Ibnu Hajar al-Asqalani. Diambil dari Abdurrahman Adam Ali, Al-Imam al-Syathibi: Aqidatuhu wa Mauqifuhu minal Bida’ wa Ahliha (Riyadl: Maktabah al-Rasyad, 1998), h. 312-318.

Advertisements

Transkripsi Fatawa Mukhtarah: Tentang Nyanyian

Leave a comment

Apakah hukum menyanyi? Apakah haram ataukah diperbolehkan walaupun saya mendengarkannya hanya sebatas hiburan saja? Dan apakah hukum memainkan alat musik rebab dan lagu-lagu klasik? Apakah menabuh genderang saat perkawinan diharamkan, sedangkan saya pernah mendengar bahwa hal itu dibolehkan? Semoga Allah memberimu pahala dan mengampuni segala dosa anda.

[Jawab:] Sesungguh mendengarkan nyanyian atau lagu hukumnya haram dan merupakan perbuatan mungkar yang dapat menimbulkan penyakit, kekerasan hati dan dapat membuat kita lalai dari mengingat Allah serta lalai melaksanakan shalat. Kebanyakan ulama menafsirkan kata lahwal hadits “ucapan yang tidak berguna” dalam firman Allah dengan nyanyian atau lagu. wa minan naasi man yasytari lahwal hadis, “Dan di antara manusia ada yang mempergunakan ucapan yang tidak berguna atau lahwal hadis,” Surat Luqman, ayat 6. Abdullah bin Masud RA bersumpah bahwa yang dimaksud dengan kata lawhal hadits adalah nyanyian atau lagu. Jika lagu tersebut diiringi oleh musik rebab, kecapi, biola serta gendang, maka kadar keharamannya semakin bertambah. Sebagian ulama bersepakat bahwa nyanyian yang diiringi oleh alat musik hukumnya adalah haram. Maka wajib untuk dijauhi. Dalam sebuah hadis sahih oleh Rasul SAW, beliau bersabda: layakunanna min ummati aqwawum yastahilluna al-hirr wal harir wal khamra wal ma‘azif, “Sesungguhnya akan ada segolongan orang dari kaumku yang menghalalkan zina, kain sutra, khamr, dan alat musik.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari tentang minuman keras dalam bab ma ja’a fi man yastahill al-khamr wa yusabbihu bi ghairi ismih. Yang dimaksud dari alhirra adalah perbuatan zina, sedangkan yang dimaksud al-maazif adalah segala macam jenis alat musik. Saya menasihati Anda semua untuk mendengarkan lantunan al-Quran yang di dalamnya terdapat seruan untuk berjalan di jalan yang lurus. Karena hal itu sangat bermanfaat. Berapa banyak orang yang telah dibuat lalai karena mendengarkan nyanyian dan alat musik. Adapun pernikahan, maka disyariatkan di dalamnya untuk membunyikan alat musik rebana disertai nyanyian yang biasa dinyanyikan untuk mengumumkan suatu pernikahan yang di dalamnya tidak ada seruan maupun pujian untuk sesuatu yang diharamkan yang dikumandangkan pada malam hari  khusus bagi kaum wanita guna mengumumkan pernikahan mereka agar dapat dibedakan dengan perbuatan zina sebagaimana yang dibenarkan dalam hadis shahih dari Nabi SAW. Sedangkan genderang dilarang membunyikannya dalam sebuah pernikahan. Cukup hanya dengan memukul rebana saja. Juga dalam mengumumkan pernikahan maupun melantunkan lagu yang biasa digunakan untuk mengumumkan pernikahan tidak boleh membunyikan pengeras suara karena hal itu dapat menimbulkan fitnah yang besar, akibat-akibat yang buruk serta dapat merugikan kaum Muslimin. Selain itu, acara nyanyian tersebut tidak boleh berlama-lama, cukup sekedar dapat menyampaikan pengumuman nikah saja, karena dengan berlama-lama dalam nyanyian tersebut dapat melewatkan waktu fajar dan mengurangi waktu tidur. Menggunakan waktu secara berlebihan untuk nyanyian dalam pengumuman nikah tersebut merupakan sesuatu yang dilarang dan merupakan perbuatan orang-orang munafik. Syaikh Bin Baz, Majalah al-Da’wah, edisi 902 bulan Syawwal 1403 H.

Ditranskripsi dari Fatawa Mukhtarah, Radio Suara Quran, 94.4 FM