SEKOLAH DINIYAH: Kenangan Masa Kecil (1)

Leave a comment

Di samping sekolah MI (Madrasah Ibtidaiyah) kurikulum Departemen Agama, saya dulu sekolah sore atau diniyah di kampung. Saya hanya sampai kelas 3, tidak tamat. Masalahnya, saya masuk sekolah tsanawiyah yang letaknya di kampung sebelah, sekitar 1 kilometer dari kampung saya. Meski begitu, saya ingat bagaimana saya diajarkan Islam di tingkat paling dasar. Sebelum masuk kelas 1 Diniyah, saya harus masuk kelas “nol” yang biasa disebut kelas “ndok” (bahasa Jawa yang berarti telur). Di kelas ini, saya diajari menulis dan membaca arab, mulai dengan mengenai alif-ba’-ta’ (huruf hijaiyah). Menghafal adalah tugas utama, di samping menulis dan membaca. Hafalan utamanya tentu adalah huruf hijaiyah tersebut. Mulai dari penyebutan nama masing-masing huruf hingga bacaannya. Jadi mulailah mengenal alif-ba’-ta’-tsa’-jim … dan seterusnya. Setelah hafal, baru diajari baca huruf yang telah diberi syakal. Mulai dari bunyi fathah “A”: a-ba-ta-tsa-ja-ha-kha– dan seterusnya, dilanjutkan bunyi kasrah “i-bi-ti-tsi-ji-hi-khi- dan seterusnya. Lalu diakhiri bunyi dhammah “u”: u-bu-tu-tsu-ju-hu-khu- dan seterusnya. Lalu diajari baca selang seling harakat: a-i-u, ba-bi-bu, ta-ti-tu, tsa-tsi-tsu, ja-ji-ju, ha-hi-hu, kha-khi-khu, dan seterusnya. Setelah itu, diajari baca bunyi ganda fathatain, kasratain, dan dhammatain. Jadilah berbunyi: an-in-un, ban-bin-bin, dan seterusnya.

Dari situ, murid-murid bisa dengan mudah membaca Arab secara acak (tidak menurut urutan hijaiyah). Ini diimbangi dengan pelajaran menulis Arab yang memang wajib dilakukan di kelas. Ini beda dengan metode iqra’ (Yogyakarta) ataupun qira’ati (Semarang) yang menurut istri saya tidak menekankan cara menulis tetapi hanya membaca. Barangkali di sini bedanya antara lulusan kelas NDOK di madrasah diniyah saya dulu dengan TPQ di zaman sekarang. Lulusan TPQ memang dengan cepat bisa membaca kalimat-kalimat al-Quran setelah jilid kesekian, tapi jika dilepas untuk membaca kalimat-kalimat bahasa Arab non-Quran besar kemungkinan akan kesulitan.

Setelah lulus kelas NDOk, barulah masuk kelas satu yang sudah diajari membiasakan membaca dan menulis Arab. Tidak boleh dan tidak ada pelajaran yang ditulis dalam huruf Latin. Karena tidak semua materi berbentuk bahasa Arab tetapi juga bahasa Jawa, maka mau tidak mau murid diajari bagaimana dengan kemampuan membaca dan menulis Arab itu digunakan untuk menyalin bahasa Jawa. Di sinilah pelajaran menulis pegon terjadi. Dari huruf hijaiyah yang ada, guru mengajarkan modifikasi tanda bunyi sehingga bisa melambangkan bunyi sesuai bahasa Jawa. Misalnya, huruf jim (  ج)yang hanya bertitik satu di bawah, harus diberi titik tiga untuk melambangkan bunyi “C” (ݘ) dan seterusnya. Pelajaran semacam ini penting. Terkait tidak hanya persiapan menuju pesantren yang diharuskan memiliki kemampuan untuk menulis pegon untuk memberi makna gandul kitab-kitab yang mereka pelajari. Pelajaran ini juga terkait dengan bacaan-bacaan agama yang tersedia yang umumnya ditulis dengan huruf pegon. Di kalangan orangtua Muslim di kawasan pantai utara zaman dahulu dan sebagian zaman sekarang memang terbiasa membaca buku-buku yang ditulis dalam huruf pegon. Di antara yang paling terkenal adalah karya Tafsir al-Ibriz karya Kyai Bisri Musthofa Rembang. Karya ini hingga sekarang masih menjadi bacaan utama kalangan orangtua.

Di kelas dua dan tiga diniyah, umumnya dipelajari kitab-kitab berbahasa Jawa dengan tulisan Arab pegon tadi. Kitab-kitab berhuruf pegon yang dipelajari itu di antaranya adalah kitab NGUDI SUSILO: SUKO PITEDAH KANTHI TERWELO (Belajar Akhlak: Memberi Petunjuk dengan Jelas) karya Kyai Bisri Musthofa Rembang. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Menara Kudus, Kudus. Kitab kecil ini ditulis pada tahun 1373/1954, berbentuk syair dan berisi pelajaran budi pekerti atau akhlak. Murid harus membacanya dengan melagukannya dan sekaligus menghafalkannya. Berikut petikannya:

Shalatullahi ma lahat kawakib

‘ala ahmadu khairi man rakiban najaib

Iki syiir kanggo bocah lanang wadon (Ini syair untuk anak laki-laki dan perempuan)

Nebihake tingkah laku engkang awon (Agar jauh dari perilaku yang tidak baik)

Sarto nerangake budi kang prayogo (serta menjelaskan pekerti yang baik)

Kanggo dalan podo mlebu ing suwargo (sebagai jalan bersama-sama masuk surga)

Hafalan-hafalan ini harus didemonstrasikan di depan kelas. Jika tidak hafal, murid mendapat hukuman beragam. Berat-ringannya tergantung pada kesalahan dan juga tingkat (maaf) “galak-tidaknya” guru. Bisa cuma dihukum berdiri di depan kelas, bisa pula dijewer atau dipukul dengan sebilah bambu kecil, dan seterusnya. Tak ada murid yang marah atau menuntut balas atas hukuman itu.

Di madrasah diniyah kelas dua, murid sudah dikenalkan bahasa Arab tingkat paling dasar. Buku yang digunakan adalah SYIIR BAHASA ARAB karya Ustad Zubaidi Hasbullah diterbitkan oleh Maktabah al-Munawwar Semarang. Sayang tidak kita temukan tahun terbitnya. Namun, bisa diduga buku kecil ini sudah lama digunakan di madrasah diniyah di kawasan pantai utara, karena para senior saya pun sudah mengenalnya. Buku ini lebih dikenal namanya sebagai kitab RO’SUN karena diawali dengan kata RO’SUN yang berarti kepala. Berikut petikan bait-bait awal:

Ra’sun sirah mafriqun uyeng-uyengan (ra’sun kepala, mafriqun uyeng-uyeng)

Sya’run rambut shadghun pilingan (sya’run rambut, shadghun pelipis)

Jabhatun bathu’ hajibun alis (jabhatun dahi, hajibun alis)

Udzunun kuping saqun wentis (udzunun telinga, saqun betis)

Saya masih ingin menghimpun kembali kitab-kitab itu dan menceritakannya, entah kepada siapa. Namun mudah-mudahan anak-cucuku masih bisa mengenalinya meski dengan cara yang lain. Mudah-mudahan tidak buta huruf Arab seperti diderita banyak generasi sekarang justru setelah ditemukan metode-metode yang cepat untuk membaca dan menulis Arab.

Advertisements

Fatwa Imajiner tentang Akun Fesbuk dan Bacaan al-Quran di Radio

Leave a comment

Soal: apakah hukumnya memiliki akun fesbuk untuk berdakwah?

Jawab: Dakwah itu adalah kewajiban setiap umat Islam. Maka harus dijalankan. Namun dalam berdakwah, kita harus menghindari hal-hal yang bidah dan menyalahi sunnah. Di zaman Rasul Saw. tidak pernah diajarkan dakwah menggunakan fesbuk, sedangkan berdakwah adalah urusan agama. Ia adalah perintah agama bagi setiap umat Islam. Maka ini sesuatu yang diada-adakan oleh orang-orang belakangan. Maka hukumnya bidah dan wajib dijauhi. Ini sesuai dengan sabda Nabi Saw: Iyyakum wa muhdatsat al-umur, fainna kulla al-muhdatsat bid’atun wa kullu bid’atin dhalalah (Jauhilah perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru itu bidah dan setiap bidah itu sesat). Rasul bersabda: man ‘amila ‘amalan laisa fihi amruna fahuwa raddun (barang siapa melakukan amalan yang tidak termasuk perkara kami [yakni agama] maka ia tertolak). Beliau juga bersabda: man ahdatsa fi amrina hadza ma laisa minhi fahuwa raddun (Barangsiapa mengada-adakan dalam perkaraku ini apa-apa yang tidak termasuk darinya, maka ia tertolak). Karena itulah saudaraku, janganlah menggunakan akun fesbuk untuk berdakwah, apalagi untuk keperluan lainnya yang tidak berguna dan menyalahi sunnah.

Soal: Bagaimanakah pendapat Anda tentang hukum membaca al-Quran dengan disiarkan melalui radio?

Jawab: Membaca al-Quran itu adalah sesuatu yang baik dan termasuk perintah agama. Namun demikian, jika hal itu menyalahi sunnah Rasul dan tidak dituntunkan Beliau, maka hal itu tertolak sebagaimana disabdakan Beliau: man ahdatsa fi amrina hadza ma laisa minhi fahuwa raddun (Barangsiapa mengada-adakan dalam perkaraku ini apa-apa yang tidak termasuk darinya, maka ia tertolak). Sesuatu yang tidak memiliki landasan dari Rasul adalah bidah yang diada-adakan, padahal Rasullullah bersabda: Iyyakum wa muhdatsat al-umur, fainna kulla al-muhdatsat bid’atun wa kullu bid’atin dhalalah (Jauhilah perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru itu bidah dan setiap bidah itu sesat). Radio itu adalah sesuatu yang baru dan menggunakannya untuk menyiarkan bacaan al-Quran juga adalah baru yang tidak ada dasarnya dalam al-Quran, hadis Nabi maupun amalan salafusshalih. Oleh karena itulah saudaraku, membaca al-Quran seharusnya tidak disiarkan melalui radio, karena hal itu menyalahi sunnah dan amalan salafusshalih. Wa bi-llahit taufiq. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Mustafi (pemohon fatwa) pun jadi paham tentang hukum menggunakan akun fesbuk dan menyiarkan bacaan al-Quran melalui radio. Keduanya ternyata bidah dan karenanya sesat. Dia ingat apa yang pernah dia baca bahwa karena sesat, maka bidah mengantarkan pelakunya ke neraka. Namun sejurus kemudian dia memikirkan kedua fatwa tadi. Ada yang terasa aneh mengapa pertanyaan yang berbeda-beda selalu digunakan jawaban yang sama. Bukan hanya itu, ternyata dalilnya juga sama atau mirip. Pikirannya mulai usil dan nakal, “jangan-jangan kalau saya tanya tentang hukum memakai celana, jawabannya itu-itu juga. Tokh celana tidak pernah dipakai Nabi. Ah, kalau begitu tidak perlu saya minta fatwa, karena semuanya sudah diketahui dalil-dalilnya, itu-itu juga. Padahal di masa lalu, di zaman perang, dalil keharaman celana bukan itu, tapi man tasyabaha bi qaumin fahua minhum (barangsiapa menyamai suatu kaum maka dia termasuk dari golongan mereka). Artinya, tidak boleh mengikuti penjajah. Ah, fatwa memang begitu adanya. Tergantung dari sudut mana pemberi fatwa (mufti) melihat persoalan dan kepentingan.”

Tentang Plagiarisme

Leave a comment

Imam Jalal al-Din al-Suyuti menceritakan bahwa Ibnu Hajjar al-Asqalani mengajari para muriddnya agar ketika menyitir suatu hadis (pembicaraan) mereka menyatakan: “Ucapan (hadis) ini diriwayatkan si polan atau si polan telah mentakhrij melalui Ibnu Hajjar, semua itu demi menyampaikan amanat, menjauhi khianat, karena khianat adalah niay yang paling buruk (bi’sat al-bitanah), menjalankan hadis itu, mengikuti para imam baik dahulu maupun sekarang, menjaga dari bohong … , memberikan hak penelitian, keinginan untuk mendapatkan manfaat dan berkah, dan mengangkap kepengarangan mereka (tasnifihim) dari tingkat yang paling rendah ke tingkat paling tinggi, berterimakasih kepada ilmu dan pemilikhnya, dan memberikan haknya karena keunggulannya. Dikutip dan diterjemahkan secara kasar dari Jalal al-Din al-Suyuti, Al-Fariq bain al-Musannif wa al-Sariq (Beirut: ‘Alam al-Kutub, 1998), 35.