Review Artikel

“Religious Reform and Polarization in Java” karya M.C. Ricklefs, dalam ISIM Review, 21, halaman 34-35.

Oleh Sunarwoto

 

Artikel ini membahas keterkaitan antara reformasi agama dan polarisasi identitas Jawa. Ricklefs memang sedang menulis tiga buku yang secara khusus membahas tentang sejarah Islam Jawa. Dua buku telah terbit, masing-masing berjudul: Mystic Synthesis in Java dan Polarising Javanese Society. Di buku pertama, dia berargumen bahwa sejak akhir abad ke-18 Islam telah membentuk secara dominan identitas Jawa dalam bentuk yang dia sebut sebagai Sintesis Mistik. Sintesis Mistik adalah mistisisme Islam yang ditandai oleh tiga hal, yakni (1) kuatnya makna identitas Islam di seluruh masyarakat Jawa; (2) ditunaikannya lima rukun Islam secara meluas; dan (3) pengakuan adanya makhluk-makhluk atau roh halus lokal semisal Nyai Roro Kidul. Namun, Ricklefs mencatat pada buku keduanya, pada abad kesembilan belas ketiga unsur yang membentik identitas Islam Jawa ini mendapat tantangan dan akibatnya identitas Jawa mengalami polarisasi akibat berbagai identitas keagamaan yang saling bersaing.

Ricklefs kemudian mendiskusikan terjadinya gerakan-gerakan reformasi (keagamaan) yang terjadi sejak pertengahan abad ke-19. Gerakan-gerakan reformasi ini ditandai dengan munculnya kritik terhadap berbagai keyakinan dan praktik tradisional lokal. Di samping itu, munculnya kelas menengah di kalangan masyarakat Muslim Jawa menjadi unsur penting yang mendorong gerakan-gerakan tersebut. Sistem tanam paksa (Cultuur stelsel) yang diterapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda ternyata membawa berkah bagi para pengusaha Jawa yang bergerak dalam berbagai sektor usaha seperti perikanan, pembuatan kapal laut, pembuatan batu bata, pertambangan emas dan sebagainya. Mereka mampu mengadakan kontak dengan para saudagar Arab di berbagai kota di Jawa. Kekayaan yang meningkat memungkinkan mereka melakukan haji ke Tanah Suci. Peningkatan haji bisa dilihat dari data yang dihimpun pemerintah kala itu. Pada 1850 tercatat 48 orang Indonesia naik haji dan  1851 hanya 28. Namun pada 1858 terjadi lonjakan jumlah yang tajam, yakni 2.283 orang. Pada 1898, tercatat 5.322 orang yang naik haji. Jumlah ini terus mengalami kenaikan di awal abad ke-20, yakni; 7.614 pada 1911; dan 15.036 pada 1921 yang didominasi oleh orang Madura, setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan, yakni 4.530 pada 1908. Faktor-faktor ini mendorong terjadinya reformasi yang ditandai dengan munculnya penolakan terhadap unsur Sintesis Mistik, terutama kepercayaan tentang adanya makhluk halus. Hal ini kemudian diperkuat oleh semakin banyak jumlah pesantren.

Di samping gerakan-gerakan reformasi Islam tersebut, hal lain yang menyebabkan terjadinya polarisasi dalam masyarakat Jawa adalah munculnya reaksi-reaksi terhadap gerakan-gerakan reformasi tersebut yang datang dari masyarakat Jawa itu sendiri. Akibatnya, masyarakat Jawa  terpolarisasikan menjadi putihan dan abangan. Tidak hanya itu, seiring aktivitas misionaris Protestan Eropa muncul komunitas-komunitas Kristen. Namun, tampaknya upaya para misionaris tersebut tidak membuahkan hasil yang menggembirakan karena hanya sedikit saja orang Jawa yang masuk Kristen. Justru keberhasilan itu terjadi ketika orang Jawa sendiri melakukan proses kristenisasi. Tercatat, Kiai Sadrach dan Kiai Tunggul Wulung adalah tokoh kristen Jawa yang justru meraih keberhasilan dalam mengkristenkan orang Jawa. Di sinilah lahir istilah Kristen Jawa dan Kristen Londo.

Pada saat yang sama, di Kediri muncuk gerakan-gerakan intelektual anti-Islam sebagainya tercermin dalam 3 karya utama, yakni Babad Kedhiri, Suluk Gatholoco dan Serat Dermagandhul. Para penulis ketiga karya ini memandang bahwa agama yang sesungguhnya dari orang Jawa adalah agama buda, yakni agama buddha pra-Islam. Dalam Dermagandhul, kata Ricklefs, dikemukakan bahwa untuk kembali kepada agama yang sesungguhnya dari orang Jawa harus melalui agama Kristen.

Di sisi lain, priyayi (kaum elite masyarakat Jawa) secara antusias menerima modernitas yang dibawa dari Eropa. Ricklefs mencatat bahwa tulisan-tulisan dalam majalah Bramartani yang terbit pada 1855 di Surakarta menunjukkan bahwa para priyayi mengadopsi modernitas sebagai gaya hidup yang berbeda dari para reformis Muslim maupun abangan. Pendidikan Belanda juga turut andil memperkuat proses modernisasi di kalangan priyayi tersebut. Muncullah klub-klub membaca, mengikuti perkumpulan-perkumpulan bergaya Eropa, menggunakan pakaian ala Eropa, dan mendirikan bangunan rumah bergaya Eropa pula.

Demikianlah terjadi polarisasi masyarakat Jawa, yang terpilah-pilah seturut garis agama dan sosial mereka. Mereka terbagi menjadi kaum reformis Muslim (putihan), abangan, dan priyayi. Meski demikian, hingga akhir abad ke-19 polarisasi itu belum menimbulkan konflik yang tajam. Konflik menjadi semakin tajam pada awal abad ke-20 dengan semakin terlembagakannya polarisasi tersebut, yakni dengan munculnya sistem politik aliran yang mendefinisikan identitas sosial, agama, politik, dan budaya dari masyarakat Jawa. Partai PKI menjadi wadah kaum abangan, sedang PNI menjadi tempat kaum priyayi menyalurkan aspirasi politik mereka. Kaum santri tergabung ke dalam organisasi NU (tradisionalis) dan Muhammadiyah (modernis), sedang dalam politik mereka masuk partai semisal Sarekat Islam, Masyumi dan seterusnya.

Artikel ini ditulis ketika buku ketiga belum terbit (dan hingga saat review ini ditulis). Di akhir artikel ini, Ricklef mengajukan pertanyaan: Apakah proses polarisasi yang sama terjadi pada dekade-dekade belakangan? Dia berpendapat bahwa terdapat kemiripan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi 1830-1930. Di antaranya adalah bahwa upaya dakwah kaum reformis Muslim untuk melakukan perubahan mendapatkan penetangan dari sebagian masyarakat, tumbuhnya gerakan-gerakan garis keras diimbangi terjadinya konversi ke dalam Kristen. Menarik, Ricklefs mengamati bahwa justru politik aliran cenderung mengalami kegagalan karena aliran kurang berperan dalam kehidupan keagamaan, politik dan sosial masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa bahkan menjadi semakin Islam secara umum yang dipacu oleh semakin tingginya tingkat melek huruf dan kemampuan mengakses informasi yang semakin besar.

Dari ulasan di atas, bisa diambil pelajaran tentang identitas Muslim Jawa yang terus mengalami perubahan dan pendefinisian ulang. Berbagai faktor turut memperteguh identitas tersebut dan pada saat yang sama menjadikannya rentan mengalami polarisasi. Namun satu hal yang penting dicatat adalah bagaimana Islam sebagai identitas senantiasa mewarnai identitas masyarakat Jawa. Penafsiran Islam, dengan demikian, selalu memungkinkan pendefinisian tentang apa makna menjadi Muslim dalam konteks masyarakat Jawa.

 

Kediri, 3 Desember 2010

 

 

 

Advertisements