Apakah kuasa (authority) menurut Islam?

Berikut ini rangkuman dari lema “authority” yang ditulis Wadad Kadi (al-Qadi). Authority berarti hak untuk bertindak atau memerintah. Dalam bahasa Arab kontemporer, istilah yang dipakai untuk authority adalah sulthah, tetapi justru kata ini tidak dijumpai dalam al-Quran. Yang ada adalah kata sultan dalam bentuk verbal noun atau mashdar, yang menurut para mufasir klasik, menunjukkan arti “bukti” atau “alasan” (argument), dan kadang berarti kuasa. Istilah-istilah Quran lainnya untuk kuasa adalah amr (perintah), quwwah (kekuatan, power), hukm (penilaian atau keputusan), dan mulk (kedaulatan, kekuasaan, dan kekuatan).

Dalam Islam kuasa hanya milik Allah. Namun berbagai ayat al-Quran menunjukkan bahwa Allah memberikan kuasa kepada manusia. Misalnya, Allah menjadikan manusia khalifah di muka bumi. Dia mengangkat nabi dan rasul. Kuasa yang dimiliki nabi dan rasul sifatnya tidak diperoleh sendiri tetapi diberikan oleh Allah. Oleh karena itu, ketaatan pada nabi dan rasul lahir karena ketaatan kepada Allah, bukan karena rasul sebagai pribadi. Q. 4: 64, menyebutkan wa ma arsalna min rasulin illa li yuta’a bi-idzni llah (tidaklah Kami utus seorang rasul kecuali hanya untuk ditaati dengan izin Allah.

Al-Quran membicarakan kuasa dalam berbagai konteks. Para mufassir pun berbeda satu sama lain dalam menafsirkan ayat al-Quran menurut ragam konteks tersebut. Q. 4: 59 yang menyebutkan perintah taat terhadap ulul amr, misalnya, memiliki tafsiran yang berbeda antara Sunni dan Syii. Mufasir Sunni memahami ulul amr sebagai umara’, ulama, dan fuqaha’, para sahabat nabi, terutama Khalifah Abu Bakar dan Umar. Dalam hal ini, ulul amr bermakna al-umara’ wa al-wulat, para penguasa yang sesungguhnya dari umat Islam.

Sedangkan mufasir Syii menafsirkannya sebagai imam yang ma‘shum. Kaum sufi cenderung memaknai sebagai para wali Sufi.

 

Di dalam al-Quran, tidak semua kuasa diakui oleh Allah. Tujuh dari 37 ayat yang mengandung kata sultan, menegaskan kepalsuan tuhan-tuhan palsu. Dalam Q. 7: 71, misalnya, menunjukkan Allahlah yang membatalkan orang-orang kafir. Ayat ini berbicara tentang orang-orang yang berbantahbantah atas nama-nama berhala, dan Allah tidak memberikan kuasa (sultan) dalam arti hujah untuk penamaan tersebut.

 

Dirangkum dari Wadi Kadi (al-Qadi), “Authotity,” dalam Jane Dammen McAuliffe (ed.), The Encyclopaedia of the Qur’an (Leiden, Boston & Cologne: Brill, 2001), pp. 188-190.

Advertisements