Menggugat Kesarjanaan Kritik Hadis Barat dan Islam

2 Comments

Judul Buku: Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis

Penulis: Kamaruddin Amin

Penerbit: Hikmah, Jakarta

Tahun Terbit: Juni 2009

Tebal: xviii + 513 halaman

Peresensi: Sunarwoto

Ada kecenderungan yang kontras antara kesarjanaan hadis Barat dan Muslim. Sementara Barat mengkaji hadis karena dorongan kepentingan sejarah (historical interest), para sarjana Muslim mengkajinya sebagai sumber pokok ajaran Islam yang kedua. Akibatnya, sebagaian sarjana Barat ngotot mengajukan skeptisisme terhadap autentisitas hadis sepenuhnya, sedang sebagian sarjana Muslim menerima hadis tanpa sikap kritis yang memadai. Kecenderungan semacam itu tampak pada sikap kedua kubu terhadap autentisitas periwayatan hadis. Pertanyaan sentral di kalangan sarjana Barat adalah: apakah hadis bisa dijadikan sebagai sumber sejarah awal Islam?

Ignaz Goldziher, sarjana Barat abad ke-19, secara skeptis berpendapat bahwa hampir semua riwayat tentang kehidupan Nabi adalah apoccryphal (meragukan). Sikap ini diamini begitu saja oleh para penerusnya semisal Leone Caetani dan Henri Lammens. Bahkan, John Wansbrough, Patricia Crone dan Michael Cook menolak hadis sebagai sumber autentik bagi rekonstruksi sejarah Nabi dan abad pertama hijriah. Senada dengan itu, Joseph Schacht mengajukan tesis bahwa isnâd (jalur periwayatan) hadis cenderung membengkak ke belakang (to grow backwards) dan bahwa sangat sedikit hadis yang berasal dari Nabi. Tesis ini belakangan dikembangkan oleh Josep van Ess dan G.H.A. Juynboll.

Di ujung lain, sarjana Muslim semisal Nasiruddin Al-Albani dan Hasan b. Ali al-Saqqaf secara apologetik ingin membuktikan kesahihan hadis lewat tradisi kritis kesarjanaan Islam. Al-Albani bertumpu pada analisis isnâd untuk menguji autentisistas hadis. Dia bersandar sepenuhnya pada informasi kamus-kamus biografi tentang kualitas para perawi hadis. Naifnya, dia tidak mengkaji secara komprehensif biografi tersebut, tetapi begitu saja mengikuti penilaian dari para penulis biografi. Dia mengemukakan bahwa isnâd hadis yang tidak tsiqah (tepercaya) berarti tidak tsiqah pula hadisnya dan karenanya harus ditolak.

Penafsiran apa pun terhadap matan hadis dan periwayatannya tidak relevan bagi Al-Albani. Mengapa? Karena penafsiran, jika diterapkan, juga bagian dari autentifikasi hadis, sedang Al-Albani hanya bertumpu pada ketsiqahan isnâd, bukan matannya. Caranya, di antaranya, adalah dengan mengecek terminologi isnâd yang digunakan perawi semisal ‘an (diriwayatkan dari …), sami‘a (dia mendengar …), haddatsanâ, akhbaranâ, dan seterusnya. Terminologi-terminologi inilah yang digunakan Al-Albani dan al-Saqqaf untuk mengukur ketsiqahan hadis. Padahal, terminologi semacam ini tidak harus diartikan sebagai model periwayatan yang menetukan ketsiqahan hadis. Menurut Kamaruddin Amin, penulis buku ini, terminologi-terminologi tersebut tidak berlaku sebagai kriteria kesahihan hadis bagi para ulama abad pertama hijriah. Artinya, para perawi di abad tersebut tidak secara sengaja dan sadar menggunakan beragam terminologi tersebut sebagai cara menentukan tingkat kesahihan dan tidaknya sebuah hadis.

Buku Metode Kritik Hadis ini diangkat dari disertasi Kamaruddin Amin yang diajukan kepada Rheinischen Friedrich Wilhelms, Universitas Bonn Jerman. Dalam buku ini, penulisnya menunjukkan sikap kritisnya terhadap metode-metode kritik hadis baik dalam kesarjanaan Barat maupun Islam. Kritiknya tidak hanya pada tataran teoretis tetapi juga pada tataran praktis penggunaan metode-metode kritik hadis. Pada lima bab yang pertama, penulis mengajukan landasan teoretis dengan menelaah sebuah hadis tentang ganjaran berpuasa. Untuk ini, dia mendekatinya dari metode kesarjanaan klasik Islam, metode analisis ala G.H.A Juynboll, dan analisis isnâd-cum-matan yang dikembangkan dalam kesarjanaan Barat abad ke-20.

Di bab 8 buku ini, Kamaruddin membuat studi yang spektakuler tentang “Penanggalan Hadis-Hadis dengan metode Isnâd-cum-Matan”. Betapa tidak?! Dia mengkaji 163 versi hadis tentang puasa dalam 39 sumber. Dia menyisir secara cermat seluruh aspek isnâd dan matan-nya. Hasilnya, penulis menemukan dua jalur utama periwayatan hadis-hadis tersebut yang bermuara pada sahabat Abu Hurairah. Kesimpulan Kamaruddin berbeda dari sarjana Muslim umumnya dan juga sarjana Barat. Juynboll memandang bahwa hadis-hadis tentang puasa telah dipalsukan pada masa Al-A’masy (w. 148 H) atau abad kedua hijriah. Analisis Kamaruddin justru menunjukkan bahwa hadis-hadis tersebut berasal dari masa Abu Hurairah yang meninggal pada 58 H atau di abad pertama hijrah. Ini berarti bahwa hadis—meski tidak seluruhnya—dapat menjadi sumber autentik sejarah Islam awal! Dari sini, Kamaruddin berhasil mempertegas perlunya mengkaji hadis dari aspek sanad dan matan sekaligus! Tak pelak, buku ini sangat penting bagi para pengkaji hadis yang serius dan khalayak pembaca yang ingin mengetahui lika-liku pencarian kesahihan hadis.

Advertisements

Review Artikel “Religious Reform and Polarization in Java”

Leave a comment

Review Artikel

“Religious Reform and Polarization in Java” karya M.C. Ricklefs, dalam ISIM Review, 21, halaman 34-35.

Oleh Sunarwoto

 

Artikel ini membahas keterkaitan antara reformasi agama dan polarisasi identitas Jawa. Ricklefs memang sedang menulis tiga buku yang secara khusus membahas tentang sejarah Islam Jawa. Dua buku telah terbit, masing-masing berjudul: Mystic Synthesis in Java dan Polarising Javanese Society. Di buku pertama, dia berargumen bahwa sejak akhir abad ke-18 Islam telah membentuk secara dominan identitas Jawa dalam bentuk yang dia sebut sebagai Sintesis Mistik. Sintesis Mistik adalah mistisisme Islam yang ditandai oleh tiga hal, yakni (1) kuatnya makna identitas Islam di seluruh masyarakat Jawa; (2) ditunaikannya lima rukun Islam secara meluas; dan (3) pengakuan adanya makhluk-makhluk atau roh halus lokal semisal Nyai Roro Kidul. Namun, Ricklefs mencatat pada buku keduanya, pada abad kesembilan belas ketiga unsur yang membentik identitas Islam Jawa ini mendapat tantangan dan akibatnya identitas Jawa mengalami polarisasi akibat berbagai identitas keagamaan yang saling bersaing.

Ricklefs kemudian mendiskusikan terjadinya gerakan-gerakan reformasi (keagamaan) yang terjadi sejak pertengahan abad ke-19. Gerakan-gerakan reformasi ini ditandai dengan munculnya kritik terhadap berbagai keyakinan dan praktik tradisional lokal. Di samping itu, munculnya kelas menengah di kalangan masyarakat Muslim Jawa menjadi unsur penting yang mendorong gerakan-gerakan tersebut. Sistem tanam paksa (Cultuur stelsel) yang diterapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda ternyata membawa berkah bagi para pengusaha Jawa yang bergerak dalam berbagai sektor usaha seperti perikanan, pembuatan kapal laut, pembuatan batu bata, pertambangan emas dan sebagainya. Mereka mampu mengadakan kontak dengan para saudagar Arab di berbagai kota di Jawa. Kekayaan yang meningkat memungkinkan mereka melakukan haji ke Tanah Suci. Peningkatan haji bisa dilihat dari data yang dihimpun pemerintah kala itu. Pada 1850 tercatat 48 orang Indonesia naik haji dan  1851 hanya 28. Namun pada 1858 terjadi lonjakan jumlah yang tajam, yakni 2.283 orang. Pada 1898, tercatat 5.322 orang yang naik haji. Jumlah ini terus mengalami kenaikan di awal abad ke-20, yakni; 7.614 pada 1911; dan 15.036 pada 1921 yang didominasi oleh orang Madura, setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan, yakni 4.530 pada 1908. Faktor-faktor ini mendorong terjadinya reformasi yang ditandai dengan munculnya penolakan terhadap unsur Sintesis Mistik, terutama kepercayaan tentang adanya makhluk halus. Hal ini kemudian diperkuat oleh semakin banyak jumlah pesantren.

Di samping gerakan-gerakan reformasi Islam tersebut, hal lain yang menyebabkan terjadinya polarisasi dalam masyarakat Jawa adalah munculnya reaksi-reaksi terhadap gerakan-gerakan reformasi tersebut yang datang dari masyarakat Jawa itu sendiri. Akibatnya, masyarakat Jawa  terpolarisasikan menjadi putihan dan abangan. Tidak hanya itu, seiring aktivitas misionaris Protestan Eropa muncul komunitas-komunitas Kristen. Namun, tampaknya upaya para misionaris tersebut tidak membuahkan hasil yang menggembirakan karena hanya sedikit saja orang Jawa yang masuk Kristen. Justru keberhasilan itu terjadi ketika orang Jawa sendiri melakukan proses kristenisasi. Tercatat, Kiai Sadrach dan Kiai Tunggul Wulung adalah tokoh kristen Jawa yang justru meraih keberhasilan dalam mengkristenkan orang Jawa. Di sinilah lahir istilah Kristen Jawa dan Kristen Londo.

Pada saat yang sama, di Kediri muncuk gerakan-gerakan intelektual anti-Islam sebagainya tercermin dalam 3 karya utama, yakni Babad Kedhiri, Suluk Gatholoco dan Serat Dermagandhul. Para penulis ketiga karya ini memandang bahwa agama yang sesungguhnya dari orang Jawa adalah agama buda, yakni agama buddha pra-Islam. Dalam Dermagandhul, kata Ricklefs, dikemukakan bahwa untuk kembali kepada agama yang sesungguhnya dari orang Jawa harus melalui agama Kristen.

Di sisi lain, priyayi (kaum elite masyarakat Jawa) secara antusias menerima modernitas yang dibawa dari Eropa. Ricklefs mencatat bahwa tulisan-tulisan dalam majalah Bramartani yang terbit pada 1855 di Surakarta menunjukkan bahwa para priyayi mengadopsi modernitas sebagai gaya hidup yang berbeda dari para reformis Muslim maupun abangan. Pendidikan Belanda juga turut andil memperkuat proses modernisasi di kalangan priyayi tersebut. Muncullah klub-klub membaca, mengikuti perkumpulan-perkumpulan bergaya Eropa, menggunakan pakaian ala Eropa, dan mendirikan bangunan rumah bergaya Eropa pula.

Demikianlah terjadi polarisasi masyarakat Jawa, yang terpilah-pilah seturut garis agama dan sosial mereka. Mereka terbagi menjadi kaum reformis Muslim (putihan), abangan, dan priyayi. Meski demikian, hingga akhir abad ke-19 polarisasi itu belum menimbulkan konflik yang tajam. Konflik menjadi semakin tajam pada awal abad ke-20 dengan semakin terlembagakannya polarisasi tersebut, yakni dengan munculnya sistem politik aliran yang mendefinisikan identitas sosial, agama, politik, dan budaya dari masyarakat Jawa. Partai PKI menjadi wadah kaum abangan, sedang PNI menjadi tempat kaum priyayi menyalurkan aspirasi politik mereka. Kaum santri tergabung ke dalam organisasi NU (tradisionalis) dan Muhammadiyah (modernis), sedang dalam politik mereka masuk partai semisal Sarekat Islam, Masyumi dan seterusnya.

Artikel ini ditulis ketika buku ketiga belum terbit (dan hingga saat review ini ditulis). Di akhir artikel ini, Ricklef mengajukan pertanyaan: Apakah proses polarisasi yang sama terjadi pada dekade-dekade belakangan? Dia berpendapat bahwa terdapat kemiripan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi 1830-1930. Di antaranya adalah bahwa upaya dakwah kaum reformis Muslim untuk melakukan perubahan mendapatkan penetangan dari sebagian masyarakat, tumbuhnya gerakan-gerakan garis keras diimbangi terjadinya konversi ke dalam Kristen. Menarik, Ricklefs mengamati bahwa justru politik aliran cenderung mengalami kegagalan karena aliran kurang berperan dalam kehidupan keagamaan, politik dan sosial masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa bahkan menjadi semakin Islam secara umum yang dipacu oleh semakin tingginya tingkat melek huruf dan kemampuan mengakses informasi yang semakin besar.

Dari ulasan di atas, bisa diambil pelajaran tentang identitas Muslim Jawa yang terus mengalami perubahan dan pendefinisian ulang. Berbagai faktor turut memperteguh identitas tersebut dan pada saat yang sama menjadikannya rentan mengalami polarisasi. Namun satu hal yang penting dicatat adalah bagaimana Islam sebagai identitas senantiasa mewarnai identitas masyarakat Jawa. Penafsiran Islam, dengan demikian, selalu memungkinkan pendefinisian tentang apa makna menjadi Muslim dalam konteks masyarakat Jawa.

 

Kediri, 3 Desember 2010

 

 

 

SEKOLAH DINIYAH: Kenangan Masa Kecil (1)

Leave a comment

Di samping sekolah MI (Madrasah Ibtidaiyah) kurikulum Departemen Agama, saya dulu sekolah sore atau diniyah di kampung. Saya hanya sampai kelas 3, tidak tamat. Masalahnya, saya masuk sekolah tsanawiyah yang letaknya di kampung sebelah, sekitar 1 kilometer dari kampung saya. Meski begitu, saya ingat bagaimana saya diajarkan Islam di tingkat paling dasar. Sebelum masuk kelas 1 Diniyah, saya harus masuk kelas “nol” yang biasa disebut kelas “ndok” (bahasa Jawa yang berarti telur). Di kelas ini, saya diajari menulis dan membaca arab, mulai dengan mengenai alif-ba’-ta’ (huruf hijaiyah). Menghafal adalah tugas utama, di samping menulis dan membaca. Hafalan utamanya tentu adalah huruf hijaiyah tersebut. Mulai dari penyebutan nama masing-masing huruf hingga bacaannya. Jadi mulailah mengenal alif-ba’-ta’-tsa’-jim … dan seterusnya. Setelah hafal, baru diajari baca huruf yang telah diberi syakal. Mulai dari bunyi fathah “A”: a-ba-ta-tsa-ja-ha-kha– dan seterusnya, dilanjutkan bunyi kasrah “i-bi-ti-tsi-ji-hi-khi- dan seterusnya. Lalu diakhiri bunyi dhammah “u”: u-bu-tu-tsu-ju-hu-khu- dan seterusnya. Lalu diajari baca selang seling harakat: a-i-u, ba-bi-bu, ta-ti-tu, tsa-tsi-tsu, ja-ji-ju, ha-hi-hu, kha-khi-khu, dan seterusnya. Setelah itu, diajari baca bunyi ganda fathatain, kasratain, dan dhammatain. Jadilah berbunyi: an-in-un, ban-bin-bin, dan seterusnya.

Dari situ, murid-murid bisa dengan mudah membaca Arab secara acak (tidak menurut urutan hijaiyah). Ini diimbangi dengan pelajaran menulis Arab yang memang wajib dilakukan di kelas. Ini beda dengan metode iqra’ (Yogyakarta) ataupun qira’ati (Semarang) yang menurut istri saya tidak menekankan cara menulis tetapi hanya membaca. Barangkali di sini bedanya antara lulusan kelas NDOK di madrasah diniyah saya dulu dengan TPQ di zaman sekarang. Lulusan TPQ memang dengan cepat bisa membaca kalimat-kalimat al-Quran setelah jilid kesekian, tapi jika dilepas untuk membaca kalimat-kalimat bahasa Arab non-Quran besar kemungkinan akan kesulitan.

Setelah lulus kelas NDOk, barulah masuk kelas satu yang sudah diajari membiasakan membaca dan menulis Arab. Tidak boleh dan tidak ada pelajaran yang ditulis dalam huruf Latin. Karena tidak semua materi berbentuk bahasa Arab tetapi juga bahasa Jawa, maka mau tidak mau murid diajari bagaimana dengan kemampuan membaca dan menulis Arab itu digunakan untuk menyalin bahasa Jawa. Di sinilah pelajaran menulis pegon terjadi. Dari huruf hijaiyah yang ada, guru mengajarkan modifikasi tanda bunyi sehingga bisa melambangkan bunyi sesuai bahasa Jawa. Misalnya, huruf jim (  ج)yang hanya bertitik satu di bawah, harus diberi titik tiga untuk melambangkan bunyi “C” (ݘ) dan seterusnya. Pelajaran semacam ini penting. Terkait tidak hanya persiapan menuju pesantren yang diharuskan memiliki kemampuan untuk menulis pegon untuk memberi makna gandul kitab-kitab yang mereka pelajari. Pelajaran ini juga terkait dengan bacaan-bacaan agama yang tersedia yang umumnya ditulis dengan huruf pegon. Di kalangan orangtua Muslim di kawasan pantai utara zaman dahulu dan sebagian zaman sekarang memang terbiasa membaca buku-buku yang ditulis dalam huruf pegon. Di antara yang paling terkenal adalah karya Tafsir al-Ibriz karya Kyai Bisri Musthofa Rembang. Karya ini hingga sekarang masih menjadi bacaan utama kalangan orangtua.

Di kelas dua dan tiga diniyah, umumnya dipelajari kitab-kitab berbahasa Jawa dengan tulisan Arab pegon tadi. Kitab-kitab berhuruf pegon yang dipelajari itu di antaranya adalah kitab NGUDI SUSILO: SUKO PITEDAH KANTHI TERWELO (Belajar Akhlak: Memberi Petunjuk dengan Jelas) karya Kyai Bisri Musthofa Rembang. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Menara Kudus, Kudus. Kitab kecil ini ditulis pada tahun 1373/1954, berbentuk syair dan berisi pelajaran budi pekerti atau akhlak. Murid harus membacanya dengan melagukannya dan sekaligus menghafalkannya. Berikut petikannya:

Shalatullahi ma lahat kawakib

‘ala ahmadu khairi man rakiban najaib

Iki syiir kanggo bocah lanang wadon (Ini syair untuk anak laki-laki dan perempuan)

Nebihake tingkah laku engkang awon (Agar jauh dari perilaku yang tidak baik)

Sarto nerangake budi kang prayogo (serta menjelaskan pekerti yang baik)

Kanggo dalan podo mlebu ing suwargo (sebagai jalan bersama-sama masuk surga)

Hafalan-hafalan ini harus didemonstrasikan di depan kelas. Jika tidak hafal, murid mendapat hukuman beragam. Berat-ringannya tergantung pada kesalahan dan juga tingkat (maaf) “galak-tidaknya” guru. Bisa cuma dihukum berdiri di depan kelas, bisa pula dijewer atau dipukul dengan sebilah bambu kecil, dan seterusnya. Tak ada murid yang marah atau menuntut balas atas hukuman itu.

Di madrasah diniyah kelas dua, murid sudah dikenalkan bahasa Arab tingkat paling dasar. Buku yang digunakan adalah SYIIR BAHASA ARAB karya Ustad Zubaidi Hasbullah diterbitkan oleh Maktabah al-Munawwar Semarang. Sayang tidak kita temukan tahun terbitnya. Namun, bisa diduga buku kecil ini sudah lama digunakan di madrasah diniyah di kawasan pantai utara, karena para senior saya pun sudah mengenalnya. Buku ini lebih dikenal namanya sebagai kitab RO’SUN karena diawali dengan kata RO’SUN yang berarti kepala. Berikut petikan bait-bait awal:

Ra’sun sirah mafriqun uyeng-uyengan (ra’sun kepala, mafriqun uyeng-uyeng)

Sya’run rambut shadghun pilingan (sya’run rambut, shadghun pelipis)

Jabhatun bathu’ hajibun alis (jabhatun dahi, hajibun alis)

Udzunun kuping saqun wentis (udzunun telinga, saqun betis)

Saya masih ingin menghimpun kembali kitab-kitab itu dan menceritakannya, entah kepada siapa. Namun mudah-mudahan anak-cucuku masih bisa mengenalinya meski dengan cara yang lain. Mudah-mudahan tidak buta huruf Arab seperti diderita banyak generasi sekarang justru setelah ditemukan metode-metode yang cepat untuk membaca dan menulis Arab.

Fatwa Imajiner tentang Akun Fesbuk dan Bacaan al-Quran di Radio

Leave a comment

Soal: apakah hukumnya memiliki akun fesbuk untuk berdakwah?

Jawab: Dakwah itu adalah kewajiban setiap umat Islam. Maka harus dijalankan. Namun dalam berdakwah, kita harus menghindari hal-hal yang bidah dan menyalahi sunnah. Di zaman Rasul Saw. tidak pernah diajarkan dakwah menggunakan fesbuk, sedangkan berdakwah adalah urusan agama. Ia adalah perintah agama bagi setiap umat Islam. Maka ini sesuatu yang diada-adakan oleh orang-orang belakangan. Maka hukumnya bidah dan wajib dijauhi. Ini sesuai dengan sabda Nabi Saw: Iyyakum wa muhdatsat al-umur, fainna kulla al-muhdatsat bid’atun wa kullu bid’atin dhalalah (Jauhilah perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru itu bidah dan setiap bidah itu sesat). Rasul bersabda: man ‘amila ‘amalan laisa fihi amruna fahuwa raddun (barang siapa melakukan amalan yang tidak termasuk perkara kami [yakni agama] maka ia tertolak). Beliau juga bersabda: man ahdatsa fi amrina hadza ma laisa minhi fahuwa raddun (Barangsiapa mengada-adakan dalam perkaraku ini apa-apa yang tidak termasuk darinya, maka ia tertolak). Karena itulah saudaraku, janganlah menggunakan akun fesbuk untuk berdakwah, apalagi untuk keperluan lainnya yang tidak berguna dan menyalahi sunnah.

Soal: Bagaimanakah pendapat Anda tentang hukum membaca al-Quran dengan disiarkan melalui radio?

Jawab: Membaca al-Quran itu adalah sesuatu yang baik dan termasuk perintah agama. Namun demikian, jika hal itu menyalahi sunnah Rasul dan tidak dituntunkan Beliau, maka hal itu tertolak sebagaimana disabdakan Beliau: man ahdatsa fi amrina hadza ma laisa minhi fahuwa raddun (Barangsiapa mengada-adakan dalam perkaraku ini apa-apa yang tidak termasuk darinya, maka ia tertolak). Sesuatu yang tidak memiliki landasan dari Rasul adalah bidah yang diada-adakan, padahal Rasullullah bersabda: Iyyakum wa muhdatsat al-umur, fainna kulla al-muhdatsat bid’atun wa kullu bid’atin dhalalah (Jauhilah perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru itu bidah dan setiap bidah itu sesat). Radio itu adalah sesuatu yang baru dan menggunakannya untuk menyiarkan bacaan al-Quran juga adalah baru yang tidak ada dasarnya dalam al-Quran, hadis Nabi maupun amalan salafusshalih. Oleh karena itulah saudaraku, membaca al-Quran seharusnya tidak disiarkan melalui radio, karena hal itu menyalahi sunnah dan amalan salafusshalih. Wa bi-llahit taufiq. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Mustafi (pemohon fatwa) pun jadi paham tentang hukum menggunakan akun fesbuk dan menyiarkan bacaan al-Quran melalui radio. Keduanya ternyata bidah dan karenanya sesat. Dia ingat apa yang pernah dia baca bahwa karena sesat, maka bidah mengantarkan pelakunya ke neraka. Namun sejurus kemudian dia memikirkan kedua fatwa tadi. Ada yang terasa aneh mengapa pertanyaan yang berbeda-beda selalu digunakan jawaban yang sama. Bukan hanya itu, ternyata dalilnya juga sama atau mirip. Pikirannya mulai usil dan nakal, “jangan-jangan kalau saya tanya tentang hukum memakai celana, jawabannya itu-itu juga. Tokh celana tidak pernah dipakai Nabi. Ah, kalau begitu tidak perlu saya minta fatwa, karena semuanya sudah diketahui dalil-dalilnya, itu-itu juga. Padahal di masa lalu, di zaman perang, dalil keharaman celana bukan itu, tapi man tasyabaha bi qaumin fahua minhum (barangsiapa menyamai suatu kaum maka dia termasuk dari golongan mereka). Artinya, tidak boleh mengikuti penjajah. Ah, fatwa memang begitu adanya. Tergantung dari sudut mana pemberi fatwa (mufti) melihat persoalan dan kepentingan.”

Tentang Plagiarisme

Leave a comment

Imam Jalal al-Din al-Suyuti menceritakan bahwa Ibnu Hajjar al-Asqalani mengajari para muriddnya agar ketika menyitir suatu hadis (pembicaraan) mereka menyatakan: “Ucapan (hadis) ini diriwayatkan si polan atau si polan telah mentakhrij melalui Ibnu Hajjar, semua itu demi menyampaikan amanat, menjauhi khianat, karena khianat adalah niay yang paling buruk (bi’sat al-bitanah), menjalankan hadis itu, mengikuti para imam baik dahulu maupun sekarang, menjaga dari bohong … , memberikan hak penelitian, keinginan untuk mendapatkan manfaat dan berkah, dan mengangkap kepengarangan mereka (tasnifihim) dari tingkat yang paling rendah ke tingkat paling tinggi, berterimakasih kepada ilmu dan pemilikhnya, dan memberikan haknya karena keunggulannya. Dikutip dan diterjemahkan secara kasar dari Jalal al-Din al-Suyuti, Al-Fariq bain al-Musannif wa al-Sariq (Beirut: ‘Alam al-Kutub, 1998), 35.

Catatan: Bidah (1)

Leave a comment

Pendapat ulama terbagi menjadi dua: (1) semua yang diadakan dalam masalah agama setelah masa Nabi Saw. Jika sesuai dengan sunnah, maka ia terpuji (mahmudah), dan jika tidak sesuai, maka ia tercela (madzmumah). Pendapat ini dianut oleh Imam Syafii, Imam al-Khithabi,  Imam al-Ghazali, Ibnu Atsir, Imam Nawawi, dan Imam Izzuddin Abdussalam. (2) setiap perbuatan ibadah yang tidak disandarkan pada dalil al-Quran dan hadis. Pendapat ini dianut oleh Ibnu Taimiyah, Ibnu Rajab al-Hanbali, dan Ibnu Hajar al-Asqalani. Diambil dari Abdurrahman Adam Ali, Al-Imam al-Syathibi: Aqidatuhu wa Mauqifuhu minal Bida’ wa Ahliha (Riyadl: Maktabah al-Rasyad, 1998), h. 312-318.

Transkripsi Fatawa Mukhtarah: Tentang Nyanyian

Leave a comment

Apakah hukum menyanyi? Apakah haram ataukah diperbolehkan walaupun saya mendengarkannya hanya sebatas hiburan saja? Dan apakah hukum memainkan alat musik rebab dan lagu-lagu klasik? Apakah menabuh genderang saat perkawinan diharamkan, sedangkan saya pernah mendengar bahwa hal itu dibolehkan? Semoga Allah memberimu pahala dan mengampuni segala dosa anda.

[Jawab:] Sesungguh mendengarkan nyanyian atau lagu hukumnya haram dan merupakan perbuatan mungkar yang dapat menimbulkan penyakit, kekerasan hati dan dapat membuat kita lalai dari mengingat Allah serta lalai melaksanakan shalat. Kebanyakan ulama menafsirkan kata lahwal hadits “ucapan yang tidak berguna” dalam firman Allah dengan nyanyian atau lagu. wa minan naasi man yasytari lahwal hadis, “Dan di antara manusia ada yang mempergunakan ucapan yang tidak berguna atau lahwal hadis,” Surat Luqman, ayat 6. Abdullah bin Masud RA bersumpah bahwa yang dimaksud dengan kata lawhal hadits adalah nyanyian atau lagu. Jika lagu tersebut diiringi oleh musik rebab, kecapi, biola serta gendang, maka kadar keharamannya semakin bertambah. Sebagian ulama bersepakat bahwa nyanyian yang diiringi oleh alat musik hukumnya adalah haram. Maka wajib untuk dijauhi. Dalam sebuah hadis sahih oleh Rasul SAW, beliau bersabda: layakunanna min ummati aqwawum yastahilluna al-hirr wal harir wal khamra wal ma‘azif, “Sesungguhnya akan ada segolongan orang dari kaumku yang menghalalkan zina, kain sutra, khamr, dan alat musik.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari tentang minuman keras dalam bab ma ja’a fi man yastahill al-khamr wa yusabbihu bi ghairi ismih. Yang dimaksud dari alhirra adalah perbuatan zina, sedangkan yang dimaksud al-maazif adalah segala macam jenis alat musik. Saya menasihati Anda semua untuk mendengarkan lantunan al-Quran yang di dalamnya terdapat seruan untuk berjalan di jalan yang lurus. Karena hal itu sangat bermanfaat. Berapa banyak orang yang telah dibuat lalai karena mendengarkan nyanyian dan alat musik. Adapun pernikahan, maka disyariatkan di dalamnya untuk membunyikan alat musik rebana disertai nyanyian yang biasa dinyanyikan untuk mengumumkan suatu pernikahan yang di dalamnya tidak ada seruan maupun pujian untuk sesuatu yang diharamkan yang dikumandangkan pada malam hari  khusus bagi kaum wanita guna mengumumkan pernikahan mereka agar dapat dibedakan dengan perbuatan zina sebagaimana yang dibenarkan dalam hadis shahih dari Nabi SAW. Sedangkan genderang dilarang membunyikannya dalam sebuah pernikahan. Cukup hanya dengan memukul rebana saja. Juga dalam mengumumkan pernikahan maupun melantunkan lagu yang biasa digunakan untuk mengumumkan pernikahan tidak boleh membunyikan pengeras suara karena hal itu dapat menimbulkan fitnah yang besar, akibat-akibat yang buruk serta dapat merugikan kaum Muslimin. Selain itu, acara nyanyian tersebut tidak boleh berlama-lama, cukup sekedar dapat menyampaikan pengumuman nikah saja, karena dengan berlama-lama dalam nyanyian tersebut dapat melewatkan waktu fajar dan mengurangi waktu tidur. Menggunakan waktu secara berlebihan untuk nyanyian dalam pengumuman nikah tersebut merupakan sesuatu yang dilarang dan merupakan perbuatan orang-orang munafik. Syaikh Bin Baz, Majalah al-Da’wah, edisi 902 bulan Syawwal 1403 H.

Ditranskripsi dari Fatawa Mukhtarah, Radio Suara Quran, 94.4 FM

Older Entries Newer Entries